Prasangka Baik dan Prasangka Buruk (Husnudzan dan Suudzan)

Agar Web Kelas Islam Rutin Update Artikel, Mohon Bantu Donasinya Akhy dan Ukhti, Caranya pun Mudah. Akhy dan Ukhti hanya cukup Meng-Klik Iklan Dibawah ini ataupun Iklan yang Berada Dimana Saja. Salam Ukhuwah dan Saling Peduli Sesama yaa Akhy dan Ukhti :)

KelasIslam, Penjelasan Prasangka Baik dan Prasangka Buruk (Husnudzan dan Suudzan), Pengertian Husnudzan dan Suudzan, Husnudzon adalah, Suudzon adalah, Prasangka baik dan prasangka buruk
- Pada kegiatan sehari-hari tentunya tanpa kita sadari kita sering atau bahkan tidak mengetahuinya sekalipun biasanya perasaan berprasangka itu terkadang muncul dari kita baik itu prasangka baik (Husnudzan) dan prasangka buruk (Suudzan).

Istilah dari prasangka baik menurut istilah atau arti dalam bahasa arab adalah adalah husnudzan yang mana biasanya perkataan husnudzan atau prasangka baik ini sudah tidak asing di telinga kita tentunya dalam sehari-hari.

Namun, apakah antum ingin mengetahui lebih lanjut makna dari prasangka baik (husnudzan) yang lebih terinci mengenai prasangka baik, di kali ini alhamdulillah Kelas Islam akan memberi tahu apa itu makna sebenarnya dari prasangka baik atau husnudzan, dari sumber hadits serta firman Allah SWT..

Prasangka baik atau biasa yang kerap disebut dengan husnudzan adalah suatu tingkah laku, yang mana kita beranggapan baik terhadap seseorang dengan arti dalam hati merasa sudah tentunya ia itu (yang dituju) orang yang baik.

Dan terdapat pula lawan kata dari prasangka baik (husnudzan) yakni prasangka buruk, prasangka buruk adalah suatu tingkah laku, yang mana kita beranggapan buruk terhadap seseorang dengan arti dalam hati merasa sudah tentunya ia itu (yang dituju) orang yang buruk.

Prasangka Buruk pun sering pula disebut dengan istilah Suudzan. Biasanya orang yang tertanam dalam dirinya prasangka yang buruk (suudzan) terhadap sesama, ia akan mudah mengalami kesulitan untuk melakukan yang namanya dari prasangka baik (husnudzan) terhadap sesama. ia pun kesulitan dalam mengendalika diri karena dalam keadaan saat hati dan pikirannya telah dijajah oleh sikap suuzan tersebut.

Jika telah demikian, umumnya orang yang memiliki sifat tersebut akan cenderung lebih memandang semua hal sebagai yang diinginkan tersebut itu rendah, sehingga tidak ada rasa kebaikan dan suatu prasangka baik dalam dirinya tersebut terutama dalam pandangannya. Bahkan yang terlihat lebih buruk yakni tercipta dalam akal pikirannya itu terbangun suatu pemahaman bahwasanya orang lain yang dikira lebih rendah dari dirinya.

Seperti yang tertera dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah R.A, bahwa Rasulullah صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. berpesan terhadap umat islam bahwasanya untuk menghindari dari suatu prasangka buruk, karena  prasangka buruk ialah perkataan yang sedusta-dustanya.

عن ابي هريرة قال: قال رسو ل الله صلي ا لله عليه وسلم : ا يا كم وا لظن فان الظن اكز ب الحد يث (متفق عليه)
Yang Artinya:
“Dari Abu Hurairah R.A ia berkata bahwa Rasulullah صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda.“Jauhkanlah dirikamu daripada prasangka (buruk) karena sangka (buruk) itu (adalah) sedusta-dusta perkataan (hati)”.
(HR. Mutaffaq Alaih).

Prasangka baik pula dapat diartikan sebagai suatu sikap yang netral atau suatu cara pandang seseorang dalam melihat/menghadapi sesuatu itu ia beranggapan bahwa hal tersebut adalah positif/baik. Bahkan larangan dari prasangka buruk (suudzan) atau dianjurkan nya kita selalu berprasangka baik (husnudzan), telah ditegaskan dalam firman Allah SWT. dalam Q.S Al-Hujurat ayat 12.

Allah SWT berfirman:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًا   ۗ  اَ يُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُ   ۗ  وَاتَّقُوا اللّٰهَ   ۗ  اِنَّ اللّٰهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ
“yaaa ayyuhallaziina aamanujtanibuu kasiirom minazh-zhonni inna ba'dhozh-zhonni ismuw wa laa tajassasuu wa laa yaghtab ba'dhukum ba'dhoo, a yuhibbu ahadukum ay ya`kula lahma akhiihi maitan fa karihtumuuh, wattaqulloh, innalloha tawwaabur rohiim”

Yang Artinya:
"Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang."
(QS. Al-Hujurat 49: Ayat 12)

Ayat diatas menerangkan bahwasanya betapa besarnya suatu potensi yang negatif jika seseorang tidak memiliki sikap prasangka baik (husnudzan). Ayat diatas pun menjelaskan juga menegaskan larangan dari prasangka buruk (suudzan), karena prasangka buruk merupakan suatu perkataan sedusta-dustanya sehingga dosa besarlah yang diperoleh kelak.

Maka dari itu, adanya suatu larangan ini tentunya menunjukan bahwa Allah SWT. telah memerintahkan orang-orang atau kaum muslim wa muslimah untuk memiliki suatu prasangka, prasangka yang dimaksudpun tentunya prasangka yang baik terhadap sesama/orang lain.

Dalam diri sendiri bahkan terutama umat islam memang seharusnya selalu turut menanamkan hal-hal yang bersifat positif, yang tercakup perilaku positif pun disini serupa yakni dengan adanya prasangka baik antar seseama tersebutlah yang membuat kita memiliki sikap yang positif sehingga dalam hal ini InsyaAllah hubungan ukhuwah islamiyah selalu terjaga terutama umat islam.

Prasangka Baik Terbagi 3 Macam


Lantas, biasanya kita sering bertanya-tanya berapakah sebenarnya dari macam-macam prasangka baik (husnudzan) dalam islam ???

Secara garis besar macam-macam prasangka baik (husnudzan) ini terbagi menjadi tiga macam, yakni:

1. Prasangka baik (husnudzan) terhadap Allah SWT.

contohnya: kita menanamkan sifat atau perbuatan yang diridhoi Allah SWT. diantaranya: sifat tawakkal, ikhlas, dan sabar dalam mentaati atau menjalani kehidupan dalam sehari-hari.

2. Prasangka Baik (husnudzan) terhadap diri sendiri.

contohnya: dalam diri hati kita sendiri tertanam suatu sikap yang menonjolkan sikap positif sendiri diantaranya yakni: sikap percaya diri, optimis, inisiatif, dan lainnya.

3. Prasangka Baik (husnudzan) terhadap sesama manusia/orang lain.

contohnya: dalam diri hati kita sendiri tertanam suatu sikap yang menonjolkan sikap yang selalu positive thinking atau selalu berpikiran/berprasangka baik terhadap sesama dan meninggalkan perkara suudzan (prasangka buruk) serta kita harus memilki rasa hormat dengan disatukan dalam berupaya menjauhkan sikap diri dari rasa curiga terhadaps sesama
Agar Web Kelas Islam Rutin Update Artikel, Mohon Bantu Donasinya Akhy dan Ukhti, Caranya pun Mudah. Akhy dan Ukhti hanya cukup Meng-Klik Iklan Dibawah ini ataupun Iklan yang Berada Dimana Saja. Salam Ukhuwah dan Saling Peduli Sesama yaa Akhy dan Ukhti :)
Reaksi:









You Might Also Like:

Tambahkan Komentar Sembunyikan